Electronic Resource
Kisah Airlangga : rumah peradaban Lamongan
Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur merupakan daerah yang potensial dengan temuan arkeologi mulai dari masa Prasejarah sampai masa Kolonial. Temuan arkeologi dari masa Prasejarah yang ditemukan di Lamongan antara lain candrasa, kapak corong, nekara, perhiasan, dan manik-manik. Dari Hindu-Buddha yang paling dominan adalah sebaran prasasti yang hampir terdapat di seluruh Kabupaten Lamongan. Selain prasasti, di Kabupaten Lamongan juga ditemukan runtuhan candi seperti yang Candi Slumpang (Kecamatan Laren), Candi Sukodadi (Kecamatan Sukodadi), dan Candi Patakan (Kecamatan Sambeng). Artefak lainnya yang ditemukan sangat beragam jenisnya, seperti yoni, arca, mata uang kepeng, pipisan, pecahan tembikar dan keramik. Peninggalan dari masa Islam yang paling terkenal di Lamongan adalah Kompleks makam dan Masjid Sendang Dhuwur yang dibangun sekitar abad ke-16. Sementara itu, sisa-sisa bangunan Kolonial peninggalan Belanda bisa ditemukan antara lain di Babat.
Seperti telah disebutkan, temuan dari masa Hindu-Buddha yang paling dominan di Lamongan adalah prasasti. Prasasti yang dapat di re-inventarisasi berjumlah 23 prasasti dari 28 prasasti yang pernah ditemukan. Prasasti-prasasti tersebut dibuat dari bahan andesit, batu kapur, dan perunggu. Prasasti-prasasti yang dibuat dari batu kapur pada umumnya sudah tidak bisa dibaca lagi. Tetapi jika dibandingkan dengan prasasti-prasasti Airlangga di luar Kabupaten Lamongan yang banyak berbentuk stele dengan puncak runcing, maka diperkirakan bahwa prasasti-prasasti yang ditemukan di Kabupaten Lamongan berasal dari masa pemerintahan Airlangga (1019-1042). Kecuali prasasti Biluluk yang ditemukan di Desa Bluluk, Kecamatan Bluluk yang dibuat dari perunggu, berasal dari masa Majapahit.
Sejak masa pemerintahan Airlangga atau bahkan sebelumnya, masyarakat di bawah kekuasaannya sudah mempunyai jiwa terbuka yang dapat menerima orang asing sebagai bagian dari kehidupannya, meskipun pada mulanya hanya di bidang perdagangan. Tetapi lama kelamaan banyak orang asing yang tinggal menetap di wilayah kerajaan. Hal ini terlihat dengan adanya warga kilalān (warga yang dikenai pajak) yang disebutkan dalam prasasti-prasasti Airlangga, seperti prasasti Cane (1021), prasasti Turunhyang A (t.t.), dan prasasti Patakan (t.t. ), di antaranya adalah orang-orang asing. Orang-orang asing yang menetap tersebut berasal Vietnam (Champa), Kamboja (Kmir), Myanmar (Rěmmĕn,), Srilangka (Singhala), serta beberapa wilayah di India seperti Cola (Drawida), Kalingga (Kling), Aryya (Aryya), dan Paṇḍikira (Paṇḍikira).
Jika melihat asal-usul Airlangga, meskipun masih keturunan Jawa karena ibunya yang bernama Mahendradatta adalah adik raja Dharmawangśa Tguh yang memerintah di Kerajaan Matarām Kuno, namun ayahnya adalah Raja Bali yang bernama Udayana. Dengan diterimanya Airlangga menjadi raja, memperlihatkan bahwa masyarakat pada masa itu telah terbuka dan menerima adanya pluralisme. Pluralisme ini merupakan identitas lokal masyarakat Lamongan yang sudah ada sejak masa Airlangga dan mungkin sebelumnya, yang dibina terus sampai kini.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain